Sampek, alat musik tradisional Dayak
Mendengarkan bunyi sampek yang mendayu dayu, seolah memiliki roh/kekuatan. Di Pampang banyak warga yang amat mahir memainkan sampek. Bunyi sampek biasa digunakan untuk mengiringi sebuah tarian, atau memberikan semangat bagi para pasukan perang. ( by frans aso )
Saksikan pertunjukannnya setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita di Balai Lamin Adat suku Dayak Kenyah Pampang Samarinda. 20 menit darri terminal Lempake.
Listening to the sound of the Sampek , as a spirit / strength. In Pampang many highly skilled people who play Sampek. The sound Sampek used to accompany a dance, or encouragement for the forces of war. (By frans aso)
Suku Kenyah art of Dayak
Kehidupan di Apo Kayan sesungguhnya, dapat ditelusuri sepanjang sungai Kayan. Penduduk daerah ini berjumlah sekitar 4700 jiwa, sebagian besar membuat rumah sepanjang tepian sungai. Isini terdapat dua kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Di Kayan Hulu tredapat lima desa yakni Long Ampung, Long Nawang, Long Nawang Baru, Long Temuyat, dan Long Payau. Sedangkan di Kayan Hilir ada tiga desa yakni sei Anai, Metun I, dan Data Dian.
Hubungan kekerabatan mereka mengikuti garis keturunan patrilinial. Dalam satu lamin dapat dijumpai hidup beberapa keluarga, mulai dari orang tua, anak, cucu, sepupu hingga keponakan. Dahulu kala sebuah lamin malah dapat menampung lebih dari 100 KK, sehingga tidak ada bentuk keluarga batih mutlak. Batih baru ada kalau sekiranya pasangan suami istri mau memisahkan diri dari lamin. Namun hal ini jarang dilakukan, karena pertimbangan ekonomi. Sebab, dengan memilih tinggal didalam lamin, segala persoalan dan kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawab bersama. Hidup komunal demikian, tentu ada resikonya. Kerahasiaan menjadi kosakata yang nyaris tak mereka kenal. Kerahasiaan personal menjadi demikian tipis, agaknya hanyalah setebal kelambu.
Namun demikian mereka tetap taat pada adat lamin yang sehari-hari dikendalikan oleh kepala adat. Di dalam lami, kepala adapt menempati kamar bagian tengah. Bagi mereka, kepala adat adalah orang yang dipilih menurut garis keturunan bangsawan, yang dapat melindungi dan berwawasan luas tentang adat setempat. Dalam struktur masyarakat, posisi kepala adat berada dibawah kepala desa. Namun, dalam keseharian, kepala adat tampak lebih dihormati ketimbang kepala desa.
Transportasi darat di daerah ini belum berkembang baik. Mereka lebih menggunakan jalan setapak sebagai sarana komunikasi darat antara satu rumah atau satu tempat. Alat transportasi populer yang cukup membantu adalah lewat sungai. Mereka menggunakan ketinting (perahu motor) sebagai alat angkut, baik untuk manusia maupun hasil pertanian.
Mata pencaharian mereka memang bertani. Umumnya, sebagai peramu hasil hutan dan peladang berpindah. Perladangan dilakukan dengan sistem rotasi alam selama 4-7 tahun. Di desa Long Payao, Sei Anai, dan Metun I, sistem rotasinya sampai 10 tahun. Inilah, agaknya, mengapa suku Dayak kerap dituding sebagai perusak lingkungan hutan.
Suku dayak Kenyah, yang menjadi penduduk asli Apo Kayan, sebagian besar beragama Kristen dan Katolik. Sebagian kecil, terutama orang tua, masih ada yang animisme. Belakangan, seiring dengan masuknya para pendatang ke daerah ini, pemeluk islam sudah mulai bermunculan. Suku Kenyah adalah klan besar suku dayak- diantara klan Dayak di Kalimantan, Serawak, dan Sabah di Malaysia. Sebagai pengantar sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Kenyah, yang mengenal 14 dialek. Belakangan, munculnya generasi muda suku Kenyah yang mendiami Apo Kayan, bahasa indonesia mulai dikenal.
Dalam perkembangannya, Klan ini terbagi menjadi 30 subsuku, yang memiliki nama tersendiri dan masing-masing memiliki kepala adat. Tak jelas, sejak kapan terjadi perpecahan dalam Klan besar ini. Namun, mengapa sampai terjadi perpecahan, itu hanya dapat diterangkan dengan “kata Sahibul Hikayat”.
Alkisah, Batang Laing-salah seorang kepala suku – menugaskan delapan warganya, empat lelaki dan empat wanita, untuk membuat Yunan (alat peras tebu). Yunan adalah syarat meminta restu kepada Dewa Peselong Loan. “Tum ta mita tan ya leka – Tolonglah kami mencari tanah subur.” Seorang dukun yang memimpin upacara kesurupan, sembari berkata, “A Untana ya suk tana Lurah Tana ya leka ya bileng – Ada tanah yang subur dan luas di lembah lurah yang jauh.”
Masing-masing subsuku mempunyai “swing-awing” (keputusan adat tersendiri). Kecuali itu, setiap subsuku memiliki otonomi atas wilayah kerja tersendiri – misalnya atas daerah perburuan, ladang, sebagai hak ulayat masing-masing. Sebelum dataran Apo Kayan dimasuki misionaris, perbedaan antar-subsuku justru memunculkan pertentangan tajam yang berakibat buruk. Misalnya, hanya untuk mempertahankan ego subsuku, mereka tak segan-segan untuk mengayau (memenggal kepala) warga subsuku lain.
Seiring dengan masuknya misionaris, adapt jelek itu mulai hilang. Selain itu, juga karena kejenuhan mereka sendiri atas tingkah laku peperangan yang sadis dan melelahkan. Adalah peserang, kepala subsuku Umaq Tau, yang memprakarsai pertemuan antar subsuku. Ketika itu, diharuskan mengangkat sumpah bersama, yaitu sumpah Petutung yang dipimpin langsung oleh Peserang. Upacara dilangsungkan pagi hari, sembari minum air taring harimau dan babi, semua kepala suku menyatakan tobat. Maksudnya, “Kalau ada yang melanggar, hati, mata dan isi perutnya, akan dimakan harimau dan babi, “ujar Pue Pare, kepala adapt Long Temuyat.
Upaya Pelibut dan teman-teman, sebenarnya, ditentang oleh kepala suku lain. Harapan mereka, Apo Kayan tak perlu ditinggalkan. Tetapi apa yang mesti dipertahankan?” Kehidupan sehari-hari di Apo Kayan susah.Garam saja sulit didapt.”kata Pelibut. Maka, ketika hari belum terang, rombongan Pelibut-yang meliputi anak dan istri serta harta benda – hijrah diam-diam, keluar dari Apo Kayan. Mereka menyusuri Sungai Boh, sambil bercocok tanam. Tak kurang dari setahun perjalanan menempuh hutan, sampai tiba di tempat tinggal sekarang Muara Wahau.
Konsekuensi pergeseran gaya hidup ini adalah penerimaan berbagai bentuk perubahan dari budaya luar. Berbagai peralatan rumah tangga dan pertanian dari luar mulai dikenal, seiring dengan tersisihnya perlatan tradisional yang sebelumnya mereka miliki. Beberapa penduduk Apo Kayan mulai menantang kehidupan kota. Bahkan, tak sedikit kalangan generasi mudanya yang hijrah ke Samarinda, Tenggarong, Tanjung Selor. Malah, sudah ada yang mengadu nasib ke negeri jiran, sebagai buruh harian. “ Tiga bulan bekerja, saya bisa mengantongi uang sampai 1.000 ringgit”, ujar Amai Juk, yang bekerja di kebun cokelat, Serawak, Malaysia. Akibat banyaknya warga yang mengadu nasib keluar sejak tahun 1988, beberapa kampung kelihatan kosong. Sebut saja Desa Long Ikeng, Long Kelawit, Long Lemiliu, Long Sungan, dan Desa Marung.
Hal ini bisa terjadi karena Apo Kayan adalah gerbang perbatasan antara Indonesia-dan Malaysia. Kalau mau ke negeri sebelah, dapat ditempuh lewat dua jalur. Lewat Sungai Marung di Kecamatan Kayan Hilir, dan melalui hulu sungai Pengian di Kecamatan Kayan Hulu. Jalur Sungai Pengian adalah rute terpendek yang bisa dilewati. Dalam waktu sekitar tiga jam perjalanan dengan perahu dari Long Nawang, kita sudah bisa sampai perbatasan.
Apo Kayan, seperti halnya daerah lain di dataran bumi ini, memang tak bisa menghindar dari perubahan. Berbagai bentuk kegiatan penyembahan, misalnya kepada patung, mulai terkikis-menyusul masuknya misionaris ke daerah itu. Sekolah-sekolah dibangun, kegiatan sosial pun muncul. Tak sedikit generasi baru Apo Kayan yang meneruskan sekolah di jenjang perguruan tinggi di Samarinda. Di antara yang sukses, malah sudah ada yang bekerja di Pemda Kalimantan Timur.
Tinggal kaum tua dan sebagian warga yang mencoba tetap bertahan di Apo Kayan, dengan segala atribut : adat, tradisi, dan agama. Mereka memilih setia pada Apo Kayan, meski bahan pokok sehari-hari relatif mahal ketimbang kota. Toh, akibat pengaruh kaum pendatang, mereka juga mulai mengenal budidaya tanaman keras seperti lada, vanili, kopi- sebagai usaha sampingan. “ Kesulitan kami adalah transportasi, sehingga bahan pokok mahal, “ujar Marcus, pemilik sebuah toko di Long Nawang.
Kecuali itu, pada merekalah, masih dapat dilihat tatto, anting-anting, kerajinan mandau, manik-manik, tarian burung Enggang, dan tarian Gong. Agaknya, memang, tak semuanya mesti berubah. (oleh frans aso, foto by hari widjayanti, bram T &frans aso )
Telinga Panjang
Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.
Di desa Pampang masih ada beberapa ibu-ibu yang bertelinga panjang, dan juga beberapa tetua adat yang masih bertelinga panjang. Sementara itu untuk generasi mudanya sudah tidak lagi membuat teliga panjang ( oleh frans aso )
—-> Ear length is characteristic of the Dayaks, in the past almost everyone either male Dayak and long-eared women. According Amai Pebulung (A Pampang Dayak tribal elders), The first dayak many live in the forest, to distinguish between humans and monkeys, “If the short ears mean he’s a monkey …..” Thus Pebulung Amai said with a laugh …
For women if the ears get longer and more ear pendant she was more beautiful then. For the boys usually pendant ears made carvings.
In the village Pampang there are still some mothers who are ear length, and also some traditional elders who are long-eared. Meanwhile, for the younger generation no longer make long ears (by frans aso)
Video Seni Tradisional suku Dayak Pampang
Atraksi kesenian suku dayak Kenyah ini bisa disaksikan secara rutin setiap hari minggu antara jam 14.00 s/d 15.00 WITA bertempat di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kalimantan Timur.
Jaraknya cukup dekat dari pusat kota Samarinda, dari Terminal Lempake hanya 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Komitment para tetua adat dan masyarakat Pampang atraksi ini akan terus dilestarikan walaupun perhatian dari pemerintah amat memprihatinkan.
“Kami menari bukan semata-mata karena uang, tetapi kami ingin melestarikan Budaya warisan para leluhur” demikian kata seorang tetua adat. Semoga saja terjadi suatu keajaiban, sehingga Pemda Kaltim yang kaya raya ini dapat memberikan perhatian serius terhadap sektor Budaya, para pengusaha yang peduli terhadap citra budaya Kaltim, sudah saatnya kita memulai sekecil apapun berani memulai itu lebih baik…. ( oleh frans aso )
—->
Attractions Dayak Kenyah art can be seen on a regular basis every day
of the week between the hours of 14:00 s / d located at Central 15:00
Lamin Indigenous Pampang Samarinda in East Kalimantan.
The distance is close enough from the center of Samarinda, the Terminal Lempake only 20 minutes journey by motor vehicle. Commitment of indigenous elders and community Pampang this attraction will continue to be preserved even if the attention of the government is very concerned.
“We dance not solely because of money, but we want to preserve the culture heritage of the ancestors” said an indigenous elder. Let’s hope a miracle occurs, so that local government of a wealthy East Kalimantan can give serious attention to the culture sector, the businessmen who care about the image Kaltim culture, it’s time we start the slightest courage to start it better …. (By frans aso)
Jaraknya cukup dekat dari pusat kota Samarinda, dari Terminal Lempake hanya 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Komitment para tetua adat dan masyarakat Pampang atraksi ini akan terus dilestarikan walaupun perhatian dari pemerintah amat memprihatinkan.
“Kami menari bukan semata-mata karena uang, tetapi kami ingin melestarikan Budaya warisan para leluhur” demikian kata seorang tetua adat. Semoga saja terjadi suatu keajaiban, sehingga Pemda Kaltim yang kaya raya ini dapat memberikan perhatian serius terhadap sektor Budaya, para pengusaha yang peduli terhadap citra budaya Kaltim, sudah saatnya kita memulai sekecil apapun berani memulai itu lebih baik…. ( oleh frans aso )
The distance is close enough from the center of Samarinda, the Terminal Lempake only 20 minutes journey by motor vehicle. Commitment of indigenous elders and community Pampang this attraction will continue to be preserved even if the attention of the government is very concerned.
“We dance not solely because of money, but we want to preserve the culture heritage of the ancestors” said an indigenous elder. Let’s hope a miracle occurs, so that local government of a wealthy East Kalimantan can give serious attention to the culture sector, the businessmen who care about the image Kaltim culture, it’s time we start the slightest courage to start it better …. (By frans aso)
Pampang diserbu 250 personel pasukan Enggang
Di depan Balai Lamin, beberapa tetua adat telah siaga menyambut , dan tepat jam 10.15 wita pasukan ENGGANG tiba didepan Lamin dalam posisi berhadap-hadapan langsung dengan para tetua adat Dayak … beberapa saat kemudian situasi mulai terlihat tegang …
Namun sejurus kemudian, terlihat sambutan dan keakraban diantara mereka…, ternyata pasukan ENGGANG tidak hendak menyerbu Balai Lamin, tetapi mereka sedang mengadakan kunjungan dalam rangka peringatan Ulang Tahun korp mereka PT. Enseval Putera Megatrading Tbk. yang sedang merayakan ulang tahun ke. 36.
Minggu, 11 Oktober 2009 menjadi hari yang teramat spesial bagi PT. Enseval cabang Samarinda, karena kedekatan emosional, di sambut dan diberikan ijin oleh para tetua adat Suku Dayak Kenyah untuk menyelenggarakan pesta ulang tahun di Balai Lamin Adat, yang merupakan tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat adat .
Acara dimulai dengan Ritual upacara penyambutan oleh tetua adat sebagai pertanda pengusiran kesialan agar segala keburukan dan kejahatan dihilangkan sehingga acara berjalan dengan lancar. Kemudian dilanjutkan dengan pemakaian Pakaian Adat kepada Pimpinan Rombongan, dan pemberian kalung kepada 12 orang kepala bagian.
Berikutnya acara ceremonial ulant tahun bisa dilakukan, acara demi acara berlangsung dengan lancar dan meriah. Seluruh karyawan terlibat secara antusias dan aktif , sehingga situasi terlihat hidup dan riuh.
Jam 14.00 s/d jam 15.00 wita Balai Lamin senantiasa gemuruh oleh tepuk tangan pengunjung yang memberikan applaus atas Atraksi Tarian Suku Kenyah yang amat memukau.
Dalam Tarian Leleng, Pasukan Enggang terlihat dengan bersemangat ikut menari bersama masyarakat Dayak Kenyah Pampang.
ENGGANG 1 , Do The Best….. ( oleh frans aso )
—->> Sunday, October 11, 2009 Pampang Samarinda, a
historic day for the Village Pampang. Since at 07.30 in the morning rush
had begun. At about 10 am about 250 personnel ENGGANG troops began
arriving in Pampang, they come with 2 buses and dozens of cars ….
In front of Hall Lamin, some indigenous elders have welcomed alert,
and promptly at 10:15 wita ENGGANG troops arrived in front of Lamin in a
position directly facing the indigenous Dayak elders … few moments
later the situation began to look nervous …But a moment later, looking a speech and intimacy between them …, it does not want to hornbills troops invaded Lamin Hall, but they were paid a visit to commemorate the anniversary of their corps PT. Enseval Putera Megatrading Tbk. who was celebrating the anniversary. 36.
PT. Enseval Putera Megatrading is National Pharmaceutical Company of the leading in Indonesia, with branches spread all over Indonesia, with the number of branch offices around 40 branches spread of DI Aceh province to Papua.
Sunday, October 11, 2009 into a very special day for PT. Enseval Samarinda branch, because the emotional closeness, the welcome and was given permission by the elders of the indigenous Dayak Kenyah tribe to hold a birthday party on Indigenous Lamin Hall, which is considered sacred places by indigenous peoples.
Anniversary events, was followed by all employees and their families and representatives from the principal.
The event begins with the ritual of welcoming ceremony by indigenous elders as a sign of bad luck for the expulsion of all malice and wickedness is removed so that the event went smoothly. Then proceed with the use of traditional dress to the party leadership, and giving the necklace to the head section 12.
Further along the same party walked toward Central Lamin. Arriving at the Center of Indigenous elders Lamin provide a welcoming and gave the place to be used for Birthday party.
Ulant ceremonial event next year can be done, the event for the event smoothly and festive. All employees enthusiastically engaged and active, so the situation looks alive and boisterous.
Promptly at 13:30 wita, Birthday ceremonial events and finished watching the show continued with local arts attractions Dayak Kenyah tribe. Lamin hall became crowded because of about 150 public visitors are allowed to enter to watch Lamin art area attractions.
Among crowd of visitors looking entourage Yoanita National Artist.
14:00 hrs s / d 15:00 hours Central wita Lamin always roar of applause that gives visitors the attractions applaus Kenyah dance very fascinating.
In dance Leleng, ENGGANG troops seemed to go dancing with excitement Dayak Kenyah people Pampang.
wita around 16:00 hours after the picture-picture content, the group Helmeted troops (EPM Samarinda) said goodbye to the traditional elders and returned to Headquarters Jl. IR Sutami Samarinda.
HAPPY BIRTHDAY ENSEVAL ……
ENGGANG -1 , Do The Best ….. (By frans aso)
Kawin ADAT Dayak Kenyah, tradisi yang hampir ditinggalkan
Kawin ADAT Dayak Kenyah,
Seiring dengan arus modernisasi, maka tradisi dan budaya terkadang mulai tersamarkan bahkan terkikis ouforia berlabel modern. Hal tersebut juga tengah menimpa masyarakat Dayak, terutama yang telah tinggal diperkotaan. Sebagian besar dari mereka justru telah meninggalkan tradisi tersebut.
Disinilah keberadaan Desa Budaya Pampang menjadi teramat penting dan sentral sebagai Desa Cagar Budaya Suku Dayak Kenyah. Di tempat ini dengan segala kesederhanaan masyarakat dayak Kenyah berjuang mempertahankan tradisi dan budayanya. Selain atraksi kesenian rutin yang dilakukan setiap hari minggu, setiap acara pernikahan, akan selalu ditutup dengan ritual pernikahan adat.
Acara Pernikahan Adat ini masih dirasa penting oleh warga Pampang untuk mempertahankan tradisi leluhur. Biasanya dalam Pernikahan Adat akan diawali dari rumah mempelai berupa arak-arakan menuju Lamin (Rumah Pamjang tempat acara nikah adat). Sesampai di depan Lamin akan disambut oleh sederetan penari dan tetua suku, untuk dilakukan ritual penyambutan memasuki lamin sebagai syarat agar acara dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah itu mempelai akan diarak naik kedalam Balai Lamin untuk mengikuti acara puncak ritual nikah adat. Acara Nikah adat akan dipimpin oleh para Tetua Suku.
Setelah ritual selesai, acara akan diakhiri dengan atraksi tarian. Disini kedua mempelai dan keluarga mempelai diwajibkan untuk menyumbangkan tarian sebagai wujud suka cita. Setelah tarian selesai maka kedua mempelai akan diarak kembali menuju rumah. (oleh frans aso ) …
—-> Wedding Ceremony Dayak Kenyah,
Along with the current modernization, the traditions and culture began masked sometimes ouforia labeled eroded even modern. It would also override the Dayak community, especially those who have lived the cities. Most of them actually have to leave tradition.
Culture Village is where the existence of Pampang become extremely important and central as the Heritage Village Dayak Kenyah tribe. In this place with all the simplicity dayak Kenyah communities struggling to maintain tradition and culture. In addition to arts attractions routinely conducted every day of the week, every wedding, will always be closed with the customary marriage rites.
Traditional wedding event is still considered important by the citizens Pampang to maintain ancestral traditions. Usually in the Wedding Ceremony will be preceded by the bride’s house in the form of the procession to the Lamin (Long House where traditional marriage ceremony). Arriving in front of the Lamin will be greeted by an array of dancers and tribal elders, to be entered Lamin welcoming ritual as a condition for the event can go well and smoothly. After that the bride would be led into the Hall Lamin up to attend summit customary marriage rites. Marriage custom event will be led by Tribal Elders.
After the ritual finished, the event will end with a dance attractions. Here the bride and the bridegroom’s family is required to contribute a dance as a form of joy. After the dance is complete then the bride would be led back to the house. (by frans aso) …
Seiring dengan arus modernisasi, maka tradisi dan budaya terkadang mulai tersamarkan bahkan terkikis ouforia berlabel modern. Hal tersebut juga tengah menimpa masyarakat Dayak, terutama yang telah tinggal diperkotaan. Sebagian besar dari mereka justru telah meninggalkan tradisi tersebut.
Disinilah keberadaan Desa Budaya Pampang menjadi teramat penting dan sentral sebagai Desa Cagar Budaya Suku Dayak Kenyah. Di tempat ini dengan segala kesederhanaan masyarakat dayak Kenyah berjuang mempertahankan tradisi dan budayanya. Selain atraksi kesenian rutin yang dilakukan setiap hari minggu, setiap acara pernikahan, akan selalu ditutup dengan ritual pernikahan adat.
Acara Pernikahan Adat ini masih dirasa penting oleh warga Pampang untuk mempertahankan tradisi leluhur. Biasanya dalam Pernikahan Adat akan diawali dari rumah mempelai berupa arak-arakan menuju Lamin (Rumah Pamjang tempat acara nikah adat). Sesampai di depan Lamin akan disambut oleh sederetan penari dan tetua suku, untuk dilakukan ritual penyambutan memasuki lamin sebagai syarat agar acara dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah itu mempelai akan diarak naik kedalam Balai Lamin untuk mengikuti acara puncak ritual nikah adat. Acara Nikah adat akan dipimpin oleh para Tetua Suku.
Setelah ritual selesai, acara akan diakhiri dengan atraksi tarian. Disini kedua mempelai dan keluarga mempelai diwajibkan untuk menyumbangkan tarian sebagai wujud suka cita. Setelah tarian selesai maka kedua mempelai akan diarak kembali menuju rumah. (oleh frans aso ) …
Along with the current modernization, the traditions and culture began masked sometimes ouforia labeled eroded even modern. It would also override the Dayak community, especially those who have lived the cities. Most of them actually have to leave tradition.
Culture Village is where the existence of Pampang become extremely important and central as the Heritage Village Dayak Kenyah tribe. In this place with all the simplicity dayak Kenyah communities struggling to maintain tradition and culture. In addition to arts attractions routinely conducted every day of the week, every wedding, will always be closed with the customary marriage rites.
Traditional wedding event is still considered important by the citizens Pampang to maintain ancestral traditions. Usually in the Wedding Ceremony will be preceded by the bride’s house in the form of the procession to the Lamin (Long House where traditional marriage ceremony). Arriving in front of the Lamin will be greeted by an array of dancers and tribal elders, to be entered Lamin welcoming ritual as a condition for the event can go well and smoothly. After that the bride would be led into the Hall Lamin up to attend summit customary marriage rites. Marriage custom event will be led by Tribal Elders.
After the ritual finished, the event will end with a dance attractions. Here the bride and the bridegroom’s family is required to contribute a dance as a form of joy. After the dance is complete then the bride would be led back to the house. (by frans aso) …
Presiden 7 hari, suku Dayak Kalimantan
Usianya sudah diatas 100 tahun, berjalan dengan dibantu tongkat, namun wajahnya senantiasa ceria, tatapan matanya tetap berbinar dan tajam, muka cerah penuh persahabatan.
Jika ngobrol dengan Amai Pebulung, anda tidak akan pernah bosan…beliau sanggup bercerita berjam-jam, gayanya yang ceria dan kocak dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar akan memberikan anda petualangan inspirasi, apalagi bagi anda yang suka menulis dan suka sejarah.
Mau tau ceritanya…Jika anda kebetulan ada diSamarinda atau merencanakan perjalanan ke Samarinda luangkan waktu berkunjung ke Pampang dan ketemu Amai Pebulung, maka anda akan dapat cerita langsung dari sumbernya…. (by frans aso)
Obyek wisata Samarinda, Cultural Tourism
Kampung dipinggir kota yang didiami oleh warga Suku Dayak Kenyah, dengan jumlah penghuni sekitar seribu jiwa. Jika kita sedang melakukan perjalanan diKota Samarinda dan kebetulan pada hari minggu, Pampang bisa menjadi pilihan kunjungan yang menarik.
Jika kebetulan anda menginap di hotel-hotel kota samarinda, dan ingin mengadakan perjalanan wisata menghabiskan libur minggunya, maka informasi ini boleh dipertimbangkan ( Tour Guide ) :
1. 08.00 wita : bangun pagi trus mandi (kata alm. mbah Surip) dan makan pagi.
2.09.00 wita : berkunjung ke Kebun Raya Samarinda (menikmati wisata alam )
3. 11.30 wita : berkunjung ke air terjun Tanah Merah (wisata alam air terjun )
4. 14.00 wita : berkunjung ke Wisata Budaya Pampang ( wisata Budaya Suku Dayak Kenyah, menyaksikan atraksi Budaya mulai acara jam 14.00 s/d 15.00 ).
5. 16.00 wita : kembali ke base , wah dah lengkap……………
inilah denahnya —–>
kisah Orang KENYAH (part-2), lamin di Apo Kayan
Inilah sepenggal kisah tentang orang Kenyah ( sambungan )
Kehidupan di Apokayan sesungguhnya dapat ditelusuri disepanjang sungai Kayan. Penduduk daerah ini berjumlah sekitar 5200 jiwa, sebagian besar membuat rumah sepanjang tepian sungai. Disini terdapat dua kecamatan, yaitu kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Di Kayan Hulu terdapat lima desa yakni Long Ampung, Long Nawang, Nawang Baru, Long Temuyat dan Long Payau. Sedangkan di kayan hilir ada tiga desa, yaitu sei Anai, Metum I dan Data Dian.
Kaum wanitanya cantik cantik. Kecuali bertatto, mereka juga dapat dikenali dengan saratnya anting gelang ditelinganya. Dalam acara acara tertentu, misalnya pesta perkawinan, mereka kerap menarikan Burung Enggang dan Tarian Gong. Belakangan tarian ini menjadi komoditas bagi para turis yang datang ke daerah itu. Pemandangan ini dapat dilihat di desa Long Bagun dan Long Iram. ( by frans aso )
—–bersambung
Kisah Orang KENYAH, menyusuri sungai kayan
Inilah sepenggal kisah tentang orang Kenyah ( bersambung )
Apo Kayan, adalah suatu daerah yang tampak mencolok diantara kerimbunan belantara. Di antara perbukitan, hutan lebat . atap rumah penduduk akan terlihat memencar. Ini adalah daerah diujung utara Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Terletak di dataran tinggi seluas 60 km2, Apo Kayan seperti menutup diri dari dunia luar. Selain jaraknya yang amat jauh dengan kota lain, alat transportasi ke Apo Kayan juga tak gampang.
Apo Kayan hanya bisa dijangkau dari 3 kota ; Samarinda, Tarakan dan Tanjung Selor. Dari tempat ini perjalanan bisa dilakukan lewat udara, menggunakan pesawat kecil seperti Merpati dan Cessna milik misionaris. Kecuali itu bisa juga di tempuh melalui transportasi sungai. Biasanya penduduk melewati sungai Kayan. Namun seringkali mengalami kesulitan, karena dihadang oleh Riam Afum yaitu niagara kecil sepanjang 35 km. Penduduk biasanya lebih memilih jalan melingkar, menghindari Riam Afum, dengan waktu tempuh lebih lama…… ( bersambung – by frans aso )
Mitos Mandau Terbang, Fakta yang mencengangkan
Pada saat terjadianya kerusuhan antar Etnis di Sambas dan Sampit, banyak cerita berkembang tentang adanya fenomena Mandau Terbang : (Mandau yang bisa terbang mencari sasaran sindiri, bisa memilih dan memenggal leher musuh). Hal tersebut cukup menggetarkan dan membuat merinding siapapun yang mendegar.
Semua dikembalikan pada yang mendengar, boleh percaya boleh tidak. Namun demikian banyak kesaksian yang menguatkan kebenaran akan fenomena tersebut.
Apapun ceritanya harus digaris bawahi bahwa Mandau adalah senjata tradisional Suku Dayak . Mandau telah menjadi Simbol kekuatan, simbol keadilan, simbol persatuan dan sekaligus simbol kehidupan Suku Dayak.
Bagi orang Dayak, membawa mandau kemana-mana adalah hal biasa, tidak perlu dirisaukan. Untuk mencabut mandau tidak boleh sembarangan, ada aturannya. Mandau tidak boleh digunakan untuk mengancam orang lain, salah salah bisa mendapatkan denda secara adat. Mandau baru akan dicabut dari sarungnya hanya jika dalam mondisi amat terdesak untuk mempertahankan diri, dan konon setiap mandau keluar dari sarungnya harus mendapat korban.
Mandau terbang konon bisa dilakukan oleh para tetua Suku yang memiliki kesaktian tinggi, melalui ritual tertentu makan mandau tersebut akan melesat terbang mencari sasarannya, hampir dipastikan mandau tersebut tidak akan salah sasaran. Dan ritual Mandau terbang hanya akan dilakukan dalam kondisi yang amat darurat demi menpertahankan hidup.
Ada kesaksian dari sebuah keluarga dimana kesaksian tersebut sulit untuk bisa diterima dengan akal sehat. Kejadian ini di sampit beberapa tahun lalu saat terjadi kerusuhan etnis.
Ada sebuah keluarga etnis cina, memiliki seorang pembantu dari etnis tertentu. Mereka sekeluarga sedang berada di dalam rumah, semua pintu dan jendela dalam kondisi tertutup dan terkunci rapat. Sejurus kemudian terdengar pintu diketok dari luar, buru-buru keluarga tersebut menyembunyikan pembantunya ke sebuah ruangan yang dinilai aman dan kedap udara. selanjutnya mereka mebuka pintu, Di depan pintu diluar rumah telah berdiri beberapa lelaki suku Dayak yang sedang melakukan sweeping terhadap warga etnis ‘tertentu’. Mereka menanyakan apakah ada warga etnis “tertentu” di dalam rumah ? . Pemilik rumah yang kebetulan dari etnis cina tersebut mengatakan bahwa yang didalam rumah tersebut hanya mereka saja sekeluarga etnis cina.
Mendengar jawaban pemilik rumah tersebut, beberapa laki laki Dayak tersebut tidak berkomentar dan segera meninggalkan rumah. Si pemilik rumah merasa lega dan buru-buru masuk rumah dan mengunci pintunya kembali.
Merasa situasi aman dari sweeping, maka pemilik rumah tersebut segera menghampiri pembantunya yang di sembunyikan dalam sebuah ruangan. Namun bagai mimpi disiang bolong, dia mendapati leher sang pembantu tersebut telah putus terpotong bersimbah darah. Karena ketakutan dan trauma , maka tanpa fikir panjang satu keluarga etnis cina tersebut saat itu juga pergi meninggalkan rumah dengan hanya menbawa barang yang bisa dibawa seadanya kembali ke kota asal di Malang .
Ya Mandau Terbang kisah antara mitos dan kenyataan….. (by frans aso )

this was what greeted us…

-closer view of the sambar deer....
Malayan sun bearthey are seriously threatened by illegal poaching and loss of habitat due to deforestation..

Borneo pygmy elephant
these lovely animals are facing the same fate as the sun bears!.....
these lovely animals are facing the same fate as the sun bears!.....
red leaf monkey....
the very interesting ant-eating pangolin
lovely Borneo orchid..
another Borneo orchid – true beauty!....
exotic looking beehive ginger.....
beautiful!....
honestly I have no idea what they are but I think they look swee!..............\
\
beautiful flora and foliage..........
they grow from the leaves, aren’t they just fascinating?...........
these are the small ones..........
another view…
Berbagai ragam suakamargasatwa yang ada di pulau BORNEO
flora dan fauna

this was what greeted us…

-closer view of the sambar deer....
Malayan sun bearthey are seriously threatened by illegal poaching and loss of habitat due to deforestation..

Borneo pygmy elephant
these lovely animals are facing the same fate as the sun bears!.....
these lovely animals are facing the same fate as the sun bears!.....
red leaf monkey....
the very interesting ant-eating pangolin
lovely Borneo orchid..
another Borneo orchid – true beauty!....
exotic looking beehive ginger.....
beautiful!....
honestly I have no idea what they are but I think they look swee!..............\
\
beautiful flora and foliage..........
they grow from the leaves, aren’t they just fascinating?...........
these are the small ones..........
another view…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar